David Efendi

“..sekian tahun pengalaman menulis. Kata pertama adalah tetap menjadi misteri kadang muncul sebagai malaikat penolong dan kadang sembunyi masuk jauh ke dalam lubang kegelapan” (David Efendi, 2011).

Entah sudah berapa sering saya diskusi dengan teman mengenai judul skripsi dan thesis baik secara online atau offline, baik melalui facebook, email, sampai nongkrong di angkringan pecel lele atau nasi kucing. Sepanjang sejarah, kemudian kesimpulannya adalah terkait persoalan sulitnya mencari kata pertama yang pas dan cocok dalam judul skirpsi, thesis atau sekedar kata pertama di artikel opini di media massa. Cerita ini bahkan ditarik jauh hari ketika sedang berada di sekolah dasar bagaimana sulitnya menemukan kata pertama setiap judul dan awal paragraf dalam mengarang. Ini adalah persoalan yang bukan tidak ada jalan keluarnya bahkan kita harus temukan anti virusnya untuk mengilhami datangnya wahyu kata pertama ini. Karena apa kata pertama sangat penting?

Setidaknya ada lima rahasia di dalamnya. Pertama, kata pertama adalah ibarat kunci pembuka kotak pandora harta benda dalam alam pikiran kita yang dapat kita unakan dalam rangkain kalimat dan sistematika/organisasi argumen berikutnya. Kesalahan plihan kata pertama, kadang merepotkan kita dan maaf berakhir dengan involusi alam pikiran kita untuk lanjut menuliskan ide dan analisis kita dalam sebuah karya tulis. Kedua, Kata pertama dan kalimat berikutnya adalah cerminan gagasan besar kita dan apa yang hendak kita berikan kepada pembaca, kepada hasanah pengetahuan dan penyelesaikan masalah (ketika kita menulis komunitas tertentu sebaiknya kita fikirikan apa sumbangsih tulsian kita). Ketiga, kata pertama adalah pendorong ide-ide baru untuk silih berganti melengkapi atau merevisi kata-kata yang sudah dianggap tidak cocok lagi atau dianggap yang baru lebih cocok. jadi, kata pertama ini akan mendinamisasikan kata berikutnya yang masih menjadi misteri dalam pikiran kita. Keempat, kata pertama adalah pertanda bahwa project kita akan berjalan sesuai kehendak dan harapan kita asal kita konsiten mengerjakan dan menekuninya. Terakhir dan yang saya yakini, kata pertama adalah misteri adalah penyemangat secara “spiritual” kita untuk mengalirkan ide kita dikemudian waktu sesuai target kita. Maka temukan dan jaga kata-kata pertama! Anda akan sukses, yakinlah.

Sehari yang lalu, untuk menyebut satu peristiwa menemukan kata pertama yang misterius tapi sangat penting dan menetukan langkah selanjutnya. Seorang teman, aktifis tulen, yang sedang chatting di Fb saya tanyai tentang project akhirnya karena kebetulan dia sedang berada diujung tanduk perkulihannya di kampus ternama di Indonesia. Semester akhir itu pun saya ketahui dari obrolan-obrolan sebelumnya lalu mulailah saya iseng menanyakan sampai aman dan bagaimana perkembangan skripsinya. Lalu teman tadi dengan ragu menjawabnya, “…iya belum lama saya mengajukan judul skripsi ke pembimbing tetapi kurang yakin. Mungkin ada masukan. Judul rencana adalah tentang demoralisasi pemuda dan ormas. Lalu aku pun siap-siap merespon dengan seadanya yang muncul dipikiran saya. Demikian sekilas dialognya.

D: Apa judulnya rencananya mungkin lebih dispesifikkan?

S: kmrn sya mau ajuin judul soal demoralisasi pemuda/ormas dalam praktik pilkada dijambi

blm saya konsultasikan lg sih cak ke pak maswadi atau ada usul cak? dg senang saya cak dibantu jurnal dan metodenya.

D: ukuran moral and demoral (kata pertama dalam rencana judul) memang agak abstract itu bisa masuk dalam pembahasan tetapi isu utama yang secara teoritik dapat diperdebatkan harus dicari cari isu utamanya, demoralisasi itukan isu pinggiran walau kadang dianggap penting, tetapi isu utamanya adalah perebutan sumberdaya ekonomi dan politik di level lokal orang mau menjual harga diri dan organisasi dalam rangka apa? mendaatkan keuntungan materi kan yang ketum maksud demoralisasi itu sama dengan paradok demokrasi jadi demokrasi berdampak legalisasi segala macam cara. Adanya struktur peluang mekanisme persaingan bebas, siapa punya uang menang, sehinga muncul demoralisasi saranku ganti “kata pertama” demoralisasi dengan paradok demeokrasi.

S: itu cak yg dikomplain tmn2, sama persis jg saran mas kir. ok cak, makasih ini bs juga itu

mantab2, makasih cak.

Saya pun tidak puas dengan dialog singkat dan kurang dalam ini, lalu pertanyaan berikutnya saya lontarkan ke chatt room di Fb lagi (sambil minum teh dingin tanpa gula).

D: kenapa tertarik kasus jambi? apa bedanya dengan kasus daerah lain? cari perbedaan kenapa jambi menarik cari alasan?!

S: …sama sih cak kalo issue utamanya dg daerah lain. tdnya hny berfikir lbh kepada spesifikasi wilayah.

D:  alasan misalnya: kemudahan mendapat akses data, pernah tinggal dijambi, mempunyai kasus yang unik

Paradok Demokrasi dalam Gagasan dan Praktik: Study kasus Tentang Pilkada Jambi Tahun 2009

itu judul usulanku, paradok artinya ada keslaahan berfikir orang indonesia ebanyakan mengenai demokrasi, kadang dismpitkan kadang hanya kopi paste dari barat. (catatan: Kata Paradok ini juga harus benar-benar dipahami jangan sampai mengarah kepada kefatalan logika kasus).

S: makasih cak.

D: adanya kesalahan menyikapi ketidapastian atau majah janus demokrasi ini berdampak pada praktik yang kacau, demoral, dan asal menang jadi perdebatanmu tentang demokrasi dilevel gagasan/teori dan praktik sehingga kesimpulanmu akan menarik ide yang salah paham+ praktek yang keliru= sama dengan kacau balau sistem perpolitikan dan wajar saja muncul ketidakpastian sistem pemerintahan akibat banyaknya pathologi sosial: korupsi, birokrasi yang gemuk, hubungan pusat daerah yang gak jelas, hubungan bupati dna gubenur yang bermasalah.Ya itu hanya usulan, teorimu bacaanmu juga sudah banyak.

Beberapa hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari catatan ini adalah pertama, bahwa misteri kata pertama ini bisa kita bongkar dengan banyak cara, seperti membaca karya-karya terdahulu, merenungkan arti kata dan rangkaiannya dalam judul dan apakah ini akan membuat gambaran yang jelas mengenai alur tulisan, atau membuat pembaca penasaran dengan ekerjaan yang telah atau sedang kita lakukan. Keduanya baik dan perlu dimunculkan dalam semangat menulis. Kedua, diskusi juga salah satu wahana membedah kebuntuhan berfikir mengenai jebakan kata pertama dalam pemberian judul karya akademik. Jika kita tidak berhasil mematahkan teka-teka dan jebakan kata pertama ini nanti akan dihadapi lagi jebakan kata pertama dalam pembuatan sub judul, sub heading, atau kata pertama setiap awal paragraf dan kata pertama kalimat terakhir setiap paragraf yang biasanya kata-kata penting menuju temuan dan kesimpulan kita.

Terakhir, dalam pencarian misteri kata pertama ini jadilah seorang yang open minded, terbuka atas gagasan dan ide baru. Seringkali kefanatikan dan konservatisme kita mempertahankan kata pertama yang kita yakini berujuang pada penyesalan ketika harus mengurus penjabaran judul yang sering tidak nyambung dengan data dan pisau analisis yang kita punya. Seperti kasus kata ‘demoralisasi’ dalam teori politik akan sulit ditemukan apalagi politik Barat yang diderivasikan dari ide Thomas Hobbes, Roause, Plato, dan seterusnya moralitas menjadi kabur dan tidak ditemukan akar dalam praktik perpolitikan yang terus menggila.

 Selamat mencoba.