Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Citizen Journalism: Cak Munir Dicintai Rakyat – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

Citizen Journalism: Cak Munir Dicintai Rakyat

 

David Efendi, Pegiat Rumah Baca Yogyakarta.

dimuat di Koran Tribun Jogja

images

 

Saya sebagai pendatang di Yogyakarta selalu mempunyai keyakinan bahwa Yogyakarta adalah kota yang sangat dinamis. Tradisi dan modernism selalu Nampak dalam berbagai ekpresi tata ruang dan pergaulan sehari-hari. Di kampus-kampus masih terpelihara idealism dalam berbagai aktifisme. Fanatisme akan budaya Jogja selalu berujung bahwa kegiatan di berbagai taman kota dan alun-alun Jogja adalah yang paling menarik di antara alun-alun di Nusantara.

Fanatisme itu sedikit terbantah manakalah saya berangkat mengikuti International conference di Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 29 November -2 Desember 2012 yang dihadiri oleh banyak ilmuwan seperti Roberth W Hefner, Martin V Bruinessan, Professor Rickleff, Mitsuo Nakamura, dan sebagainya.  Di sela-sela kegiatan itu saya mengunjungi Batu Night Spectakuler dan yang terhebat adalah saya mengunjungi alun-alun Batu, Malang pada malam minggu (1/12). Mataku membelak karena di alun-alun itu dipenuhi gambar Munir (aktifis Kontras yang ‘dibunuh’ di atas Pesawat Garuda menuju sekolah di di Belanda).

Ternyata alun-alun ini sangat hidup dan ideologis karena di sana memang tempat lahir Munir Tholib dan saya bicara singkat dengan anak-anak, remaja, dan keluarga yang sedang bermain di Alun-alun. Mereka intinya sangat mencintai sosok Munir dan merindukan kebaraniannya. Anak-anak TK itu sibuk memandangi, membacai nama-nama anak-anak yang ikut andil dalam mewarnai ‘cak Munir’ tersebut.  Cak Munir, dengan keyakinan penuh, memang melekat di hati aktifis dan juga orang-orang Batu yang memang mencintainya.

Malam yang larut. Sekitar jam 11 malam. Panitia masih sibuk menyiapkan kegiatan memperingati Munir dengan tajuk ‘manfsir munir tersebut. Kegiatan yang berlangsung dua hari itu didahului dengan lomba mewarnai Cak Munir yang diikuti mungkin ribuan anak-anak sekolah TK dan SD terbukti banyak banget kertas yang dipajang (lihat gambar).  Perjalanan dengan teman saya Farikh Asfari ini akhirnya menemukan gongnya yaitu usut punya usut ketika saya paksakan bicara dengan  panitia saya di minta menemui orang Jogja. Dalam hati saya, “kok orang Jogja? Kan ini di Malang.”

Panen buah Munir di Batu, kota kalahiran “Munir sang pahlawan melawan lupa” tulis saya dalam status FB saya. Ribuan gambar Munir memadati alun-alun Batu Malang. Gambar-gambar itu diwarnai oleh anak-anak sekolah dari TK sampai SD. Anak-anak muda itu sibuk berfoto bersama Munir, dan mencoba mengenal lebih emosional sosok Munir dalam tulisan yang terdapat di sudut bawah ribuan gambar-gambar tersebut.

 

 

Barulah setelah itu saya tahu bahwa aktor intelektual kegiatan yang sangat menyentuh emosi saya tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah manusia unik Mas Butet Kertaradjasa atau yang dikenal juga dengan Sentilun. Ternyata benar, dari Jogja untuk Indonesia karena Mas Butet benar-benar melakoninya dan bukan sejedar kata-kata. Ketidakadilan yang menimpah Munir oleh penguasa adalah satu hal yang memang layak diperjuangkan dan ditafsirkan kembali untuk merekayasa keadilan seperti apa yang akan dipanen di negeri ini. Panen raya keadilan seharusnya sudah kita mulai jika Munir iru merasuki jiwa-jiwa manusia Indonesia—terutama politisi dan punggowo negara.

Kegiatan yang akan berlangsung dua hari tersebut akan dimeriahkan dengan pembacaan surat untuk presiden oleh Istri Munir Suciwati, penampilan Mas Butet dan ethnomusicology Djaduk Ferianto, Swara Sudjiwotedjo, dan beberapa seniman lainnya. Hal ini meningatkan spirit kota kecil Jogja yang sudah 3 hari saya meninggalkannya.

Dengan demikian saya harus pulang ke Jogja dengan mengembalikan keyakinan saya bahwa Jogja memang istimewa—istimewa karena telah menginspirasi daerah-daerah lain untuk berbuat demi kelangsungan bangsa dan negara ini.  Korespondensi dengan Rumah Baca Komunitas dapat melalui FB: Rumah Baca Komunitas atau Tweeter Mabaca. Salam Jogja with Love!!

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.