David Efendi

Ujian skripsi, thesis, dan desertasi adalah sebuah perjalanan panjang bagi pelakunya di dunia pendidikan tinggi. Ibarat perguruan pencak silat, setiap jenjang itu akan diperoleh sebuah sabuk berupa ‘sabuk’ (ijazah) dalam ritual puncak masing-masing. Bagi peraih prestasi tertentu akan mendapatkan tambahan catatan berupa sertifikat atau sekedar pelabelan untuk cumlaude atau suma cumlaude—sangat memuaskan atau terpuji. Karena itulah, ujian karya akhir mahasiswa itu seperti sabung ‘nyawa’ satu melawan 3 sampai lima pendekar (professor ahli). Jika kita keluar dari cengkeraman mereka, artinya kita kemudian merdeka lalu masyarakat akan menguji seberapa besar kontribusi kita terhadap penemuan solusi persoalan manusia baik di ranah komunitas lokal, nasional, maupun internasional.

Sabuk dari perguruan tinggi bukanlah akhir perjalanan intelektual terlebih intellectual organic karena harus membuktikan tesis-tesis yang sudah abash secara akademis di tengah masyarakat yang dinamis dan selalu berubah sesuai kehendak alam (nature) dan rekayasa manusia (culture). Apa-apa yang dicapai dalam derajat unversitas bukanlah apa-apa tanpa diikuti pembuktian, pengembangan, pengabdian kepada masyarakat dengan melandaskan atas premis-premis dalam narasi karya intelektual tersebut. Di sinilah seringkali kegagalan itu dialami kaum tersekolah/kaum terdidik yang menjadikan dunia ilmu pengetahuan juga dianggap sebelah mata oleh masyarakat lantaran ketumpulannya dalam menjawab persoalan kontemporer keummatan. Taruhlah contoh, pengangguran terdidik di DI Yogyakarta sangat tinggi dibandingkan dengan pengangguran terbuka. Kenapa para tamatan kampus yang notabene sarjana menganggur?

Pengalaman sepintas saya yang telah menyisir perjalanan di bangku sekolah dari sarjana di UGM (lulus 2008), s2 UGM (lulus 2010), dan s2 di Amerika (lulus 2012) mengajarkan bahwa dunia kampus itu seringkali terpisah dari realitas walaupun ada gengsi(privilege) yang diyakini oleh pelaku dan dibenarkan oleh publik bahwa tamatan universitas ternama dan luar negeri itu akan ‘laku’ di pasaran kerja nasional dan akan lebih sejahtera. Inilah salah satu mitos terbesar awal  abad 21 ini. Ujian yang saya alami sama sekali tidak berarti apa-apa lantaran terlalu bajibunnya teori-teori dan methodology dibandingkan kapasitas karya itu memecahkan persoalan yang mendesak dijawab. UGM adalah nama besar di republik ini,Universitas Hawaii at Manoa adalah kampus yang cukup baik namanya walau posisinya di medium tetapi ujian thesis di sana adalah salah satu kebahagiaan dan juga kesedihan bagi saya. Inilah salah satu sebab kenapa saya tidak ikut prosesi wisuda disana karena meragukan karya thesis sepanjang 200 halaman itu sebagai karya yang usufull untuk komunitas saya di Indonesia.

Saya yakin, penguji saya juga mengerti daya ubah thesis saya yang rendah sehingga mereka tidak banyak ekpektasi selain meminta untuk menyarikan thesis itu ke dalam jurnal internasional yang sampai sekarang tidak saya realisasikan. Satu catatan adalah bahwa objektifikasi saya yang lemah lantaran terlalu banyak respek dalam beberapa abstraksi yang saya lakukan terhadap raja Yogyakarta sehingga salah satu penguji menannyakan, “apakah anda mempunyai rasa hormat yang sangat tinggi kepada raja Jogja sehingga anda, dalam bagian tulisan anda, mengatakan bahwa kekuatan sultan tidak dapat digantikan atau digeser oleh kekuatan apa pun di Yogyakarta karena rakyat masih sangat percaya dan nderek sultan sepanjang hidup?” saya tidak menyangkal tetapi ekpresi ini muncul sebagai subyektifitas saya yang dipengaruhi lingkungan pergaulan selama melakukan participatory observation atau ethnography research di Yogyakarta.

Professor Nevzat Soguk, ahli politik Islam dan globalisasi tersebut mengangga saya wajar lantaran saya meneliti sebagai inner researcher atau ingroup dimana saya berada dan tinggal di Yogyakarta selama lebih dari 12 tahun. Namun, secara akademis hal ini menjadi kelemahan saya lantaran saya mengabaikan dimensi etis dalam penelitian. Namun disisi lain, hal ini bentuk apresiasi saya terhadap pandangan banyak responden yang relatively sangat respek kepasa kraton secara kelembagaan—bahkan ekstreemnya jikalau sultan itu dijabat sambal jepit, masyarakat Yogyakarta akan masing hormat.

Banyak hal yang tidak saya tulis dalam report di thesis karena terlalu overload data yang saya peroleh dan berhasil saya kumpulkan baik melalui catatan langsung, peristiwa yang saya temui, Koran nasional dan lokal, facebook, sumber media online dan dokumen-dokumen yang saya dapatkan dari responden melalui wawancara dan arsip pribadi. Kebanyakan data itu membuat sulit saya dan pembimbing untuk menyusun argumentasi yang runtut dan enak dibaca. Apa boleh buat saya pun harus tega untuk meng-cut dan men-delete puluhan halaman draft thesis.

Catatan lain adalah terkait pilihan jenis penelitian yang sering kita terkadang mempunyai derajat respek yang berbeda—beberapa sangat takjub dengan kuantitatif atau sebaliknya qualitative. Di kampus saya, University of Hawaii at Manoa, ada spirit melawan hegemoni rezim kuantiatif yang ada daratan Amerika. Walau demikian di fakultas social science, sosiologi mengembangkan model kuantitatif. Di jurusan ilmu politik, walau sebagian besar professor dididik oleh rezim kuantitatif dari kampus ternama di daratan Amerika toh mempunyai spirit yang agak seragam terkait “what does statistic mean?” atau “statistiq is nothing without proper and reasonable arguments”. Saya pribadi lebih senang dan gembira mempelajari ilmu politik dengan pendekatan antropologi dan ethnography— pilihan ini kemudian mengantarkanku lebih enjoy belajar everyday politik yang dianggap sebagai politik nir-hiruk pikuk ketimbang jenis konvensional politik (advokasi dan official politics) seperti kelembagaan negara dan peran civil society organization (LSM, Paguyuban, Media, Asosiasi, perkumpulan, dll).

Saya pun memutuskan untuk meneliti tema yang sedang hangat di Yogyakarta seputar gerakan keistimewaan yang menolak rencana pemilihan gubernur dan meminta penetapan yang saya coba masukkan kajian melalui konvensional politik, advokasi (gerakan sosial) dan everyday politik (bisa dikata level micro-politics, atau bahkan politik pinggiran)—termasuk proses bagaimana everday politik ber-transformasi menjadi gerakan sosial (online dan offline, dengan atau tanpa kekerasan). Kajian ini pun, hemat saya, lumayaan membantu untuk mengabstraksikan penerimaan masyarakat terjadap konsepsi demokrasi barat/liberal dengan imajinasi dan keyakinan yang berbasis realitas dan budaya yang mereka pahami.

Kontibutor thesis yang saya susun itu pun harus saya sebutkan sebagai penghargaan dan ungkapan terima kasih saya, tanpa menyebut nama saya dapat menyebutkan spectrum responden yang sangat beragam mulai tukang parkir, becak, pedagang asongan, kepala dukuh, kepala desa, mahasiswa, ‘preman’, pensiunan, guru, tokoh LSM, birokrat kraton, dosen, professor, keluarga kraton, mantan orang dekat raja/sultan, mantan bupati, politisi, dan beberapa tokoh gerakan keistimewaan. Tanpa mereka semua, saya tidak mungkin dapat melewati ujian thesis pada 9 Agustus 2012.  Walaupun tidak sangat memuaskan tetapi tetap ada nilai-nilai yang perlu dijadikan penjemangat untuk mengarungi samudra dalam pengembaraan intelektual. Hidup rakyat Jogja!