Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning The Power of Gossip – Politik Lokal dan Perubahan Sosial

The Power of Gossip

David Efendi

Gossip atau dalam bahasa indonesia ditulis “gosip” sebetulnya adalah sesuatu yang berenergi dan mampu menjadikan sesuatu yang tidak menjadi ya, dan yang iya menjadi TIDAK (baca teori opini publik tentang bagaimana sebuah fakta dikonstruksi). Kekuatan maha besar ini menggerkan industri politik dan bisnis di banyak negara. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di banyak negara besar seperti Amerika. Kata Jeseps Epstein, orang Amerika paling doyan gosip. Sampai-sampai Barbara Walter pernah mengatakan, “Show me someone who never gossips, and I’ll show you someone who isn’t interested in people.” Begitu hebatnya, semenjak tahun 1950-an buku tentang gosip dan acara gosip infotainment terus berkembang pesat. Kehebatan gosip adalah kemampuannya melawati sekat-sekat ideologi, negara, bidang pekerjaan, dan disiplin keilmuwan. Universalitas gosip ini menjadikan gosip mempunyai kekuatan yang maha dahsyat dalam panggung kebudayaan.

Sejarah Gosip (Komparasi dari beberapa kebudayaan)

Dalam masyarakat Jawa semenjak ratusan tahun silam sudah dikenal kata ‘rerasan’,atau rasan-rasan, selain itu juga ada istilah glenak-glenik dan beberapa bahasa lokal lainnya. Sejarah gosip di Indonesia sulit dpastikan tahunnya (ada yang tahu?). Term-term itu adalah dihasilkan dari proses interaksi sosial yang intensif. Munculnya term-term itu adalah dari kalangan orang biasa (grassroot) dan bukan dari kelompok elit. Lahirnya rerasan dan glenikan tentu adalah suatu penyamaran untuk tidak diketahui secara umum mengenai apa yang dibahas, siapa yang sedang diisukan, dan juga sumber utamanya pun wajib dirahasiakan. Lambat laut budaya ini ditangkap oleh kelompok kapital menjadi industri hiburan, ditangkap oleh pebisnis media untuk dijadikan kolom. Di Indonesia ada banyak acara gosip show muncul pasca tumbangnya Orde Baru. Rubrik KR Jogja ada namanya glenak-glenik, suara akar rumput, dan sebagainya. Tidak berbeda apa yang terjadi di Amerika, dalam industri surat kabar, media online dan hiburan TV.

Ada beberapa literatur buku di Amerika menyebutkan bahwa budaya gosip ini memang mempunyai universalitas yang cukup luas. Para penggosip pun bukan hanya khalayak kelas sosial di bawah tetapi politisi gedung kuning, artis papan atas, dan ilmuwan kampus pun melakukan hal yang sama. Hal ini menjadikan kita perlu menggali lebih detail sejarah gosip seperti halnya kita serius mencari genealogi sebuah revolusi, atau sejarah demokrasi itu sendiri. Secara politik, term-term gosip dan kisi-kisinya awalnya memang digunakan oleh masyarakat yang kekuasaanya tidak besar. Tetapi, gosip akhirnya tidak hanya representasi senjata orang lemah tetapi menjadi komoditas yang dapat mendongkrak akumulasi kapital kaum bisnis hanya dengan memindahkan rumor dalam gosip sehari-hari ke layar kaca TV dan bioskop. Juga media cetak. Persoalan bisnis, celebritis, dan politik menjadi saling berkelindan dan saling terantung dalam industru dunia layar kaca ini. Dengan gosip, kehidupan ini serasa dalam rumah kaca.

Disini saya mencoba mengkatorikan gosip menjadi tiga jenis. pertama adalah gosip tegak. Pembicaraan terselubung yang terkait majikan, atasan, penguasa diatasnya yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dalam relasi kuasanya. Kecenderungan gosip ini sangat tidak langsung dan simbolik yang oleh James Scott atau Ben Kerkvliet masuk dalam kategori everyday resistance atau senjata orang tertindas. Gosip ini seringkali tidak efektif karena gap kekuasaanya terlalu tinggi sementara bawahan butuh atasan dalam siklus ekonominya.

Gosip kedua adalah gosip miring. Gosip ini cenderung negatif artinya karena sumber dan rujuka gosipnya memang tidak jelas. Dalam banyak contoh adalah gosip artis yang menghebohkan tetapi orang tidak berusaha mencari kebenaran sesungguhnya. Ini hanya menjadi gosip jalanan yang murah dan gampang dilupakan. Sedangkan gosip terakhir adalah gosip mendatar. Gosip ini dilakukan dalam ruang danw aktu yang sempit. Tema dan siapa yang digosip adalah bersifat lokal, dekat dengan urusan sehari-hari. Misalnya masyarakat membicarakan tetangga yang membangun rumah tinggi-tinggi lalu air hujan yang dari rumah tinggi itu menggenangi rumah sebelahnya. Contoh lainya, gosip terhadap calon kepala desa menjadikan kandidat itu tidak terpilih karena dalam gosip ada kekuatan leigitimasi jika orang-orang yang terpercaya terlibat di dalamnya.

Daya Ubah Gosip?

Vaclav Havel (1984) dalam buku the Power of the Powerless mensinyalir sangat kuat bahwa ada potenci besar dal am individual atau kelompok yang sering dianggap powerless. Daya survive atau daya tahan individu dan komunitas dalam rejim pemerintahan yang opresif/diktator adalah salah satu hal yang memungkinkan kaum powerless ini menjadi antidote dari penguasa. Penguasa yang menciptakan kesadaran palsu itu lambat laun akan dilawan dengan paradigma dan cara pandang masyarakat yang bertentangan dengan rasionalitas penguasa.

Sejalan dengan itu, Leura Auslander (2009) dalam bukunya Cultural Revolutions: Everyday Life and Politics in Britain, North America, and France mengklaim bahwa tiga revolusi besar yang terjadi di Amerika, Perancis, dan Ingris bukanlah revolusi kaum borjuasi tetapi revolusi yang terjadi akibat dan perihal kebudayaan masyarakat. Kebudayaan itu bergerak dari bagaimana masyarakat memandang situasi dan perubahan melalui forum-forum informal (baca: rumor, gosip). Buku lain memperkuat hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Paul Ginsborg (2005) dalam The Politics Of Everyday Life: Making Choices, Changing Lives dan juga buku The Politics of Everyday Life in Vichy France: Foreigners, Undesirables, and Strangers karya Shannon L. Fog (2011). Dalam buku Ginsborg cukup inspiratif dalam bagian yang membedah bagaimana hal-hal yang terjadi dalam level lokal dan komunitas dapat memberikan dampak pada suprastukrur politik yang lebih tinggi. Bagaimana cara ia mempengaruhi tentu menarik untuk dikaji.

Pada umumnya orang mengetahui keburukan pemerintah namun seringkali membircarakannya dalam nalar yang sederhana, bahkan seringkali berupa analogi dan sindiran yang mempunyai makna terselubung di dalamnya. Taruhlah contoh, teman saya menuliskan pendapatnya dalam status FB saya. Menurutnya orang jogjakarta, misalnya, selalu membicarakan keindahan dan keburukan dengan santai,arif,dan bijaksana. Hal ini mungkin saja dilandasi oleh keinginan menjaga harmoni kehidupan tidak hanya untuk masyarakatnya tetapi dalam bathin mereka juga tidak ingin memperkeruh situasi internal kejiwaan hanya dengan pikiran bergolak akibat ketidakpuasan akan kebijakan pemerintah.

Salah satu fenomena unik di Indonesia yang saya catat adalah ketika Slank, sebuah group musisi, merilis lagu yang telah membuat politisi hasil pemilu era reformasi kebakaran jenggot. Judul lagunya sederhana tetapi sbtansinya tentu dapat menggoncang dunia persilatan. Ini adalah liriknya:

Pernah kah lo denger mafia judi/Katanya banyak uang suap polisi/Tentara jadi pengawal pribadi/Apa lo tau mafia narkoba/Keluar masuk jadi bandar di penjara/Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan/Tempatnya lendir-lendir berceceran/Uang jutaan bisa dapat perawan/Kacau balau … Kacau balau negaraku ini ..

Ada yang tau mafia peradilan/Tangan kanan hukum di kiri pidana/Dikasih uang habis perkara/Apa bener ada mafia pemilu/

Entah gaptek apa manipulasi data/Ujungnya beli suara rakyat/Mau tau gak mafia di senayan/Kerjanya tukang buat peraturan

Bikin UUD ujung-ujungnya duit/Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar/Pake peci tapi kelakuan barbar/Ngerusakin bar orang ditampar-tampar

Biar bagaimanapun juga, musisi punya kepekaan tinggi. Dia mampu menangkap fenomena kesahrian dalam gosip dan rumor yang dilakukan oleh individu-individu di kedai kopi, jalanan, ruang tunggu, halte, dan sebagainya. Lirik-lirik itu adalah realitas yang diangkat dalam musik terlepas motivasi pemusik apakah memang misi sosial atau misi kapital.

Selain gosip melalui musik adalah gosip tentang perilaku seksualitas politisi dan pejabat yang menjadi bulan-bulanan bagi masyarakat. Perilaku anti moral itu menjadikan masyarakat percaya diri bahwa moralitas dan etika mereka lebih baik dari para penjahat berkedok wakil rakyat. Karena rasa ini mereka semakin PD untuk mengatakan A-Z tentang kehidupan sosial dan politik warganya. Bahkan respon-respon mengenai kebijakan publik pun disuarakan di warung remang-remang, obrolan sesama tukang becak dan buruh gendong. Mereka tidak lagi tabuh menggosip yang bagi mereka minimal mengobati kekesalan dalam pekerjaannya. Karena mereka tidak berharap perubahan terjadi, topik bicaranya sering serampangan dan kadang sesekali bernafas panjang—tanda mereka muak dengan keadaan yang diciptakan oleh para pengambil kebijakan yang tidak bijak bagi mereka. Perasaan muak itu lalu disimbulkan dengan meludah dan membuang puntung rokok lalu diinjak di bawah kursi angkringan.

Media pun dengan mudahnya sekarang memperoleh opini masyarakat biasa di sembarang tempat karena mereka sangat berani untuk bicara (tidak semua) tetapi bagi pekerja kuli rendahan di kota mereka mempunyai informasi lebih maka mereka harus berani bicara. Walau terkadang, jika mereka dalam paguyuban mereka akan memberikan kesempatan beropini pada pimpinannya. Hal ini saya punya pengalaman wawancara dengan tukang becak yang menyarakan saya untuk menemui ketua paguyubannya karena dianggap tidak tepat kalau dia beropini. Dengan diliputnya ruang tersembunyi ‘gosip jalanan’ ini akhirnya lambat-lambat pemerintah mulai memperhatikan apa keinginan masyarakat. Tapi tidak sedikit yang bersifat acuh lantaran cmindset dan rasionalitas yang berbeda antara orang kebanyakan, kaum marginal dengan pengambil kebijakan.

Catatan kaki

Demikian gosip saya hari ini semoga ini juga bagian dari gosip sehari-hari. Saya lebih senang kalau note-notes ini (walau tidak ilmiah) tetapi legitimasi yang saya perlu adalah bagaimana notes-notes dalam FB pengguna jejaring ini dapat dikategorikan sebagai ‘everyday gossip of people in social media.’ Dengan demikian kita memperkuat daya ubah sebuah tradisi universal bernama GOSSIP. Gosip diplesetkan menjadi digosok makin sip. Artinya semakin sering dibicarakan semakin menarik, dan semakin mengundang masyarakat luas untuk membicarakannya dengan nada optimis, psimis, netral, mendukung, menolak, dan mengartikan secara berbeda-beda tentang suatu fenomena yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

About David Efendi 237 Articles
David Efendi is a young lecturer at the departement of Governmental Studies at UMY. He graduated from political Science, University of Hawaii at Manoa and Gadjah Mada University. His research interest are mostly in the area Local Politic, everyday politics and resistances he then found this Everyday Politics and Resistance Studies in order to create a new alternative in understanding political issue both local and national. The main focuses of his current research are about everyday life of people resistances and politics, non-violence movement, collective action, and also social movement.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*