David Efendi

“We fought back, Child, as well and as honorably as possible”

(Nyai Ontosoroh, dalam Child of All Nations karya Pramudya AT)

1292836749366169692

Kelemahan orang-orang kuat adalah kekuatan orang-orang lemah. Kelemahan orang-orang kaya adalah kekuatan utama orang-orang miskin. Sedangkan kelemahan terbesar para penguasa dzalim adalah kekuatan terhebat para rakyat jelata yang miskin papa. Bagaimana kita membangun keyakinan bahwa sekumpulan orang miskin bisa melakukan revolusi besar, bagaimana nyali kaum tertindas bisa menggerakan perubahan menuju keadaan yang lebih baik, lebih memanusiakan manusia.

Kekuatan rakyat, jika disatukan, tidak akan ada penguasa yang berdaulat. Jika rakyat bersatu seharusnya tidak bisa dikalahkan. Inilah jargon-jargon revolusi yang terus dikibarkan tanpa lelah. Rakyat tidak boleh lelah, jika lelah kekuatan mungkar akan merajalela.  Setidaknya ada empat kekuatan besar yang dimiliki kaum marginal atau miskin antara lain; Pertama, orang lemah adalah orang yang paling kuat menderita. Kedua, orang lemah dan tertindas adalah orang yang tidak gampang putus asa dan mau mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk perjuangan termasuk nyawa. Ketiga, kekuatan kelompok tertindas selalu dalam jumlah besar. Terakhir, adalah kekuatan pada doa.

Pertama, ketahanan menjalani kehidupan dalam serba kekurangan dilakoni orang miskin turun temurun sampai cucu dan cicitnya. Ini adalah kekuatan yang tidak pernah dimiliki penguasa dan pemegang kekuasaan. Jika senjata orang lemah ini bisa dimanfaatkan, diindustrialiasikan dalam bentuk energi perubahan tentu revolusi kebaikan akan muncul tidak lama. Inilah yang disebut James Scoot (1978) ’sebagai senjata orang-orang lemah’ (Weapon of the weak). Secara naluri orang tertindas mempunyai cara untuk bertahan dan berjuang baik dengan cara frontal atau secara diam-diam. Perubahan hanya dimulai dari keadaan buruk dan timpang.

Kedua, ada bukti empiris yang snagat kuat yang menolak pendapat Mancur Olson (year) bahwa rakyat miskin tidak akan bertindak secara kolektif walau mereka mempunyai kepentingan yang sama. Saya akui argumen tersebut ada benarnya tetapi kenyataan di beberapa tempat menunjukkan fenomena yang berbeda. Kasus perlawanan rakyat melawan kompeni di Indonesia, reformasi 1998, kasus mbah priok, kasus demonstrasi korban gempa di Yogyakarta untuk mendapatkan keadilan, kasus pembagian BLT yang didemo warga di beberapa tempat. Artinya kesadaran untuk bergerak dan menuntut hak sudah sangat lazim ada dalam pikiran dan perasaan manusia. Ada pepatah, cacing pun menggeliat jika diinjak apalagi manusia yang ditindas tentu diam bukanlah pilihan sadarnya. Mereka ingin bergerak dan merubah keadaan hanya karena buruknya pengorganisasian menjaidikan naluri ‘revolusi’-nya menciut dan mencair. Inilah pentingnya kepemimpinan kaum miskin dan dhuafa (tertindas).Orang miskin dalam sejarahnya, untuk menuntut haknya tidak segan mengorbankan nyawanya. Hal ini bisa dilihat di China, Vietnam, Indonesia, dan Timur Leste. Keberanian mati inilah kekuatan yang tidak pernah dimiliki oleh golongan penindas (kuasa).

Ketiga, orang miskin (tuna kuasa) selalu lebih besar dari jumlah golongan penindas sehingga penguasa selalu berfikir untuk memecah kekuataan massa besar rakyat dengan berbagai cara. Belanda, Amerika, atau kaum penjajah lainnya selalu menggunakan taktik mengadu domba antar sipil. Mereka menciptakan politik devide at empere atau memprovokasi massa agar terjadi konflik horizontal baik berbasis agama, ras, dan etnis. Konflik kelas sangat ditakuti oleh penguasa sebab golongan kapitalis kalah secara jumlah dan hampir dipastikan akan dilumat habis oleh massa yang panas. Karena jumlah besar inilah senjata orang tertindas menemukan kedahsyatannya. Di era negara modern negara sebagai pelaksana kekuasaan selalu takut akan diorganisasinya massa sehingga negara menangkap pemimpin massa karismatik, penulis, dan mengikis habis organisasi massa. Hal ini terlihat di era Suharto dan di zaman modern sekarang ada pamswakarsa, ada pamongpraja, ada hansip, polmas, dan sejenisnya yang ini tidak lain dan tidak bukan adlaah untuk membendung massa melepaskan energi besarnya. Sipil dihadapi dengan sipil sementara kelas penguasa dan pengusaha kipas-kipas di manca negara (plesiran).

12928367902120991928Terakhir, kaum miskin yang jumlahnya besar dan tidak berani mati juga mempunyai kelebihan secara spiritual. Dalam islam, orang miskin dan teraniaya doanya lebih dikabulkan sehingga meminjam bahasa Taufik Ismail, orang kaya dan penguasa selalu tergantung kepada doa-doa si fakir miskin. Selama orang miskin berdoa untuk kebaikan bangsa penguasa dan kaum kapitalis mengambil keuntungan darinya. Tapi, orang miskin pada akhirnya akan bangkit melawan kepongahan penguasa. Senjata orang ‘lemah iman’ adalah doa dan menggertak dalam hati, sedangkah senjata orang tertindas adalah bergerak secara nyata dengan mulut dan tangannya. Inilah awal mula sebuah revolusi ‘kebaikan’ umum sebagaimana yang dimimpikan oleh para pejuang kebenaran baik dari golongan Marxian, moralis, dan agamawan.

Sebagai kesimpulan, jalan revolusi orang miskin dan tertindas memang tidak selamanya manifes tetapi bersifat latin, pasif, dan diam. Kediaman dan kepasifan adalah seperti gunung yang menyimpan api pijar, lahar, dan awan panas yang kapan-kapan bisa muntah dan membumihanguskan status que dan kebuasan penguasa. Revolusi adalah jalan menuju tatanan baru meski dilewati dengan peluh, darah dan air mata. Inilah peradaban yang sedang dipertaruhkan zaman. Kekuasaan terpusat di segelintir elite yang pongah tetapi rakyat masih menyimpan tenaga dalam sekamnya dengan diam, melawan dengan damai. Tapi sebenarnya mereka jelas: MENOLAK TUNDUK!

Honolulu, Dec 19, 2010